Oleh: aaipoel | Rabu,Juni 6, 2007

Tunjukan Aku Ke Jalan Yang Lurus

Suatu ketika aku bermain-main di sebuah taman dengan pemandangan yang begitu Indah, dimana ditengah taman tersebut menggericik aliran air yang tersembur dari sebuah pipa dalam kolam yang airnya tak begitu dalam. Bermandikan cahaya rembulan, dan remang gulita redup lampu hias aku terduduk bersandarkan batu pualam penghias dinding sebuah pos jaga. Dari sini aku dapat memandang dan melihat setiap gerak-gerik orang berlalu lalang, baik berpasangan maupun berkelompok, seolah mereka tak memperdulikan keberadaanku. Mereka asyik masyuk dengan segala aktivitas yang dikerjakan, entah bersenda, bergumul, maupun sekedar bercengkrama, rupanya suasana sendu taman membuat mereka larut dalam keasyikan. Rata-rata mereka yang mengunjungi taman ini adalah pasangan muda-mudi sedang dimabok asmara.

Terlintas dalam kesendirianku, sebuah pikiran apakah aku akan seperti mereka bila bersamaku kekasihku. “ oooohhh….! tidak-tidak itu tidak benar ! lirihku. Bila aku seperti mereka maka aku adalah seorang lelaki yang tak bertanggung jawab, seorang lelaki yang tidak dapat menjaga sebuah kehormatan wanita. Buatku wanita adalah sebuah mutiara yang harus dijaga kilau cahyanya. Jika aku seperti mereka maka aku telah meredupkan cahya mutiara tersebut dan kelak orang tidak lagi dapat menghargai dengan tinggi mutiara itu.

Dengan pemandangan seperti itu, segera aku panjatkan doa semoga mereka diberi kekuatan agar mereka dapat mengetahui kemana arah jalan mereka, yaitu arah jalan lurus jalan sebuah kebenaran. Dan aku berharap jalanku, jalan yang ku tempuh saat ini adalah jalan yang benar yaitu jalan yang lurus, jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Bukan jalan yang dimurkai oleh NYA. Selangkah kemudian aku berpikir apakah mereka termasuk orang-orang yang berakal, orang berakal yang menggunakan akalnya. Sebab jika mereka berakal, maka mereka tidak akan mengumbar syahwatnya dimuka umum, dan jika mereka berakal maka setiap pasangannya akan saling meperingatkan jika jalan yang mereka tempuh itu salah, dan kembali kepada jalan yang lurus.


Tanggapan

  1. pantang mundur, maju terus…pak…!
    terus tulis…tulis terus…..!


Beri tanggapan

Your response:

Kategori