SUDAHKAH RAKYAT KITA SEJAHTERA ?

Rakyat sejahtera ?, entah sampai kapan kita dapat mencapai kalimat tersebut, sesuatu yang amat didamba dan di idam-idamkan segenap bangsa Indonesia. Meski mensejahterakan adalah tujuan dari bangsa Indonesia yang tercantum pada dasar Negara, namun untuk mencapai itu tidak mudah seperti apa yang kita inginkan, kesejahteraan antar tiap pribadi seseorangpun belum tercapai, masih banyak yang perlu kita benahi dan relokasikan untuk mencapai itu. Walau mungkin ada diantara kita beberapa yang telah mencapai tingkat kesejahteraan yang mencukupi.

Tiap individu itu berbeda,termasuk berbeda dalam mentafsirkan kata sejahtera. Ada orang yang mengartikan bahwa sejahtera adalah terlepas dari kemiskinan, sejahtera berarti mencukupi. Sejahtera dan kemiskinan erat kaitannya satu sama lain. Sebab orang yang telah mencapai kesejahteraan berarti orang tersebut telah terbebas dari kemiskinan, meskipun belum tentu itu dapat mencapai kebahagiaan yang hakiki. Bagaimana bisa rakyat kita telah sejahtera, jika disana-sini masih ada yang meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya semata. Masih ada disebuah pelosok desa terpencil yang kekurangan kebutuan pangan maupun sandang. Dan masih ada diantara pemimpin-pemimpin kita yang masih mementingkan pribadinya untuk mencapai kesejahteraannya sendiri dengan mengambil hak-hak orang kebanyakan.

Itu semua tidak dapat dikatakan kalau rakyat kita telah sejahtera. Semestinya mereka sebagai pemimpin dapat memberikan contoh atau tauladan kepada mereka yang belum mencapai kesejahteraan yang layak, atau setidaknya memberikan pembelajaran bagaimana caranya merengkuh itu.

Didalam ajaran Hindu sesorang yang berada dalam golongan brahmanapun di haruskan turun lansung kebawah untuk memberikan pengetahuan kepada ketiga golongan lainnya dalam konsep catur warna yakni Ksatrya, Wesya, Sudra. Golongan brahmana dituntut untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dan membuat aturan-aturan hukum yang berlaku serta memberikan hukuman kepada siapa yang melanggarnya. Jadi golongan brahmana sangat bertanggung jawab kepada masyarakatnya apabila ditemukan masyarakat tersebut tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak.

Namun pada kenyataannya bagaimana dengan bangsa ini, bagaimana dengan rakyatnya yang tidak mendapatkan kesejahteraan yang sebagaimana mestinya. Pemimpin kita, pemimpin bangsa ini harusnya layak dimintai pertanggung jawaban terhadap fenomena tersebut. Yang ada rakyat menjerit acap kali pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM. Suara rakyat hanyalah dianggap sebagai suara-suara rintihan yang merongrong kursi pemerintahan.Coba kita lihat dimana-mana pekerja/buruh menuntut kenaikan gaji,guru,PNS atau petani yang meminta kelayakan untuk hak hidup layak, namun pemimpin bangsa ini tidak bergeming sedikitpun untuk lebih menata dimana letak kesalahan bangsa ini.

Acuh tak acuh pemerintah hanya menjadikan bahwa ini adalah hal yang wajar dalam kehidupan Negara yang menganut paham demokrasi. Semestinya jika melihat konsep ajaran hindu tadi pemerintah haruslah terjun langsung kebawah mengawasi dan memberikan pembelajaran cara-cara efektif untuk dapat menuju hidup yang sejahtera. Jangan hanya menjadikan Negara lain sebagai tujuan tugas dinas dengan alasan studi banding. Sungguh tidak masuk akal jika rakyat kita dibandingkan dengan rakyat bangsa lain yang jelas-jelas berbeda adat dan falsafah. Jika ingin rakyat kita sejahtera marilah para pemimpin negeri ini mau turun langsung, agar bisa lebih memahami dan mengetahui apa yang diinginkan oleh rakyatnya. Jangan membandingkan bangsa ini dengan bangsa lain.Mau berkomunikasi antar semua golongan dan tidak merasa berpikiran bahwa “saya layak menjadi pemimpin” mungkin bangsa ini akan maju dan terarah. Dalam menjalin hubungan ini maka perlu adanya pikiran yang baik, sebab jika pikiran baik maka perkataanpun akan baik.

Mungkin dengan jalan seperti ini akan tercipta hubungan yang harmonis antar semua golongan, antar semua pemimpin partai, ormas, serta antar semua lapisan masyarakat yang pada akhirnya akan tercipta masyarakat yang dinamis dan sejahtera. Ya semoga saja, karena saya pun berharap demikian. Semoga jika mereka semua mau bertemu dan duduk bersama yang dikomunikasikan hanyalah untuk rakyat semata dan bukan untuk sebuah kursi yang dipandang dengan kedua buah bola mata.

Tinggalkan Balasan