Blog Sebagai Media Komunikasi Politik Baru

Dalam fenomena politik mutakhir, menurut Deddy N Hidayat, pers telah menjelma menjadi media driven politics. Dalam arti, setiap momentum politik mustahil menafikan kehadiran pers. Terpilihnya SBY-Kalla sebagai pasangan Presiden/Wakil Presiden dalam Pemilu 2004, diyakini tidak terlepas dari politik pencitraan pers, khususnya media elektronik televisi. Pers waktu itu mencitrakan SBY-Kalla sebagai tokoh yang pro perubahan, sementara lawan politik utama mereka, Megawati – Hasyim Muszadi dicitrakan sebagai pasangan yang anti perubahan.. Dalam fungsinya sebagai media driven politics, pers menjalankan fungsi penghubung antara elit politik dengan warga. Sebuah fungsi yang dulunya dominan dilakukan oleh partai atau pun kelompok-kelompok politik tertentu. Dalam banyak hal, fungsi penghubung tersebut semakin banyak yang diambil alih pers. Proses memproduksi dan mereproduksi berbagai sumber daya politik, seperti menghimpun dan mempertahankan dukungan masyarakat dalam pemilu, memobilisasi dukungan publik terhadap suatu kebijakan, merekayasa citra kinerja sang kandidat, dan sebagainya, banyak dijembatani, atau bahkan dikemudikan oleh kepentingan dan kaidah-kaidah yang berlaku di pasar industri media (Deddy N Hidayat: 2004).Upaya elit politik membangun posisitioning lewat pers memang sah-sah saja dilakukan. Pertama karena fenomena massa mengambang belum sepenuhnya diselesaikan oleh elit politik. Akibatnya banyak elit politik yang berpaling ke media, karena media bisa “mendekatkan” mereka, sekaligus membangun citra tertentu seperti yang diinginkan ke tengah masyarakat. Kedua, dalam memperebutkan sumber daya politik, pers juga “dipakai”, dalam arti dijadikan saluran kepentingan untuk memobilisasi opini. Pertanyaannya, politik pencitraan seperti apa yang digunakan elit politik dalam memperebutkan sumberdaya politik lewat media massa, dan bagaimana media harus bersikap dalam hal ini, serta bagaimana peranan blog dewasa ini pada perkembangan komunikasi.
Di zaman dimana ilmu saling silang bersilang, lintas batas, zamanlah yang menentukan apakah Komunikasi Politik sebagai bagian dari ilmu pengetahuan bisa bertahan sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan kemanusiaan dan pencarian kebenaran, bukan dalam sebuah jendela dari sekian banyak jendela untuk melihat suatu realitas fisik yang tunggal, tetapi dalam sebuah dunia yang egaliter dan pluralitas yang rendah hati. Ketika media massa menjadi “hak milik” sekelompok kecil orang yang menjadi elit maka internet menjadi media paling efektif menyebarluaskan gagasan yang dimiliki.
Internet menjadi media efektif bagi sebuah kelompok untuk menyebarkan paham yang minoritas, karena internet memiliki sifat yang bebas ruang dan waktu. Melalui internet kita dapat menyebarkan gagasan tanpa dipengaruhi oleh masalah tempat dan masalah waktu. Jika kita menjelajahi internet kitapun akan menemukan segalanya di sana, mulai dari yang religius hingga yang berbau pornografi. Dengan makin banyaknya orang yang menjelajah internet maka semakin banyaklah orang yang terampil berbicara secara lugas hingga bicara yang menutupi jati diri orang seorang. Ada banyak fasilitas diinternet yang dapat dijadikan sarana bertukar informasi, gagasan, hingga hal-hal sepribadi mungkin yang seharusnya orang tak perlu tahu tentang kepribadiaan kita. Seperti contohnya website dan blog.
Kedua hal tersebut hampir sama dimana kita dapat menyebarkan gagasan dengan kontrol mengenai isi sepenuhnya ada pada diri kita.Berbeda dengan media massa, dimana gagasan yang kita sampaikan terkena sensor dari redaksi media. Blog merupakan salah satu media baru yang berkembang era tahun 2000an. Blog dianggap sebagai media komunikasi alternatif karena masih gratis sehingga siapapun dapat memiliki blog. Melalui blog maka setiap individu atau kelompok dapat menyebarkan gagasan. Blog membuat setiap orang menjadi wartawan karena dapat menyajikan apa yang mereka ketahui dan yang mereka alami tanpa batas kendali maupun sensor, serta blog dapat dijadikan media informasi alternatif di luar media massa. Jika media massa masih terikat tata krama atau kode etik jurnalistik, maka blog terlepas dari hal demikian. Lebih dari itu dengan blogpun kita dapat mengetahui informasi tentang kejadian di sebuah negara. Tak jarang Media massa pun terkadang menjadikan blog sebagai sumber berita.
(bersambung)

Tinggalkan Balasan